Pernah nggak sih kita lagi curhat soal capeknya hidup, terus ada yang menjawab,
“Yuk semangat! Masih banyak yang lebih susah dari kamu,” atau “Bersyukur dong, jangan ngeluh terus.
”Kedengarannya positif ya? Tapi justru di situlah letak masalahnya. Itu yang disebut pandangan yang merugikan, sikap terlalu positif sampai-sampai kita nggak ngasih ruang buat ngerasa sedih, marah, kecewa, atau emosi manusiawi lainnya.Rupanya-olah perasaan negatif itu tabu. Padahal, manusia bukan robot. Kita bukan hanya diciptakan untuk bahagia terus-menerus.Bayangin deh, kamu lagi tenggelam di lautan, minta tolong, tapi orang di pinggir pantai cuma bilang,
“Tenang aja, airnya bening kok. Liat sisi positifnya.” Nggak lama kan? Positivitas yang beracun bisa membuat orang merasa berbisa bikin orang merasa puas karena ngerasa “nggak cukup kuat”.
Padahal, ngerasa down itu bukan kelemahan. Itu bagian dari proses hidup. Terkadang, yang kita butuhkan bukanlah solusi, tapi pelukan. Bukan motivasi, tapi validasi.
Yang sehat itu bukan selalu “berpikir positif”, tapi berpikir realistis dan jujur dengan perasaan sendiri . Nggak apa-apa loh kalau hari ini kamu merasa lelah, sedih, atau kecewa.
Nggak perlu buru-buru nyari hikmah kalau hati belum sembuh. “Gue ngerti kok, itu pasti berat banget.
“Yuk bisa yuk!” Yuk, jadi teman yang bisa bilang, “Gue ngerti kok, itu pasti berat banget.”
Bukan cuma, “Yuk bisa yuk!” Karena terkadang, kalimat layu menguatkan bukan yang penuh semangat, tapi layu tulus dan mengerti.

Komentar
Posting Komentar