Langsung ke konten utama

Toxic Positivity | gak semua di balas dengan senyuman

Pernah nggak sih kita lagi curhat soal capeknya hidup, terus ada yang menjawab, 

“Yuk semangat! Masih banyak yang lebih  susah dari kamu,” atau “Bersyukur dong, jangan ngeluh terus.

”Kedengarannya positif ya? Tapi justru di situlah letak masalahnya. Itu yang disebut pandangan yang merugikan, sikap terlalu positif sampai-sampai kita nggak ngasih ruang buat ngerasa sedih, marah, kecewa, atau emosi manusiawi lainnya.Rupanya-olah perasaan negatif itu tabu. Padahal, manusia bukan robot. Kita bukan hanya diciptakan untuk bahagia terus-menerus. 

Bayangin deh, kamu lagi tenggelam di lautan, minta tolong, tapi orang di pinggir pantai cuma bilang, 

“Tenang aja, airnya bening kok. Liat sisi positifnya.” Nggak lama kan? Positivitas yang beracun bisa membuat orang merasa berbisa bikin orang merasa puas karena ngerasa “nggak cukup kuat”.

Padahal, ngerasa down itu bukan kelemahan. Itu bagian dari proses hidup. Terkadang, yang kita butuhkan bukanlah solusi, tapi pelukan. Bukan motivasi, tapi validasi. 

Yang sehat itu bukan selalu “berpikir positif”, tapi berpikir realistis dan jujur ​​​​dengan perasaan sendiri . Nggak apa-apa loh kalau hari ini kamu merasa lelah, sedih, atau kecewa. 

Nggak perlu buru-buru nyari hikmah kalau hati belum sembuh. “Gue ngerti kok, itu pasti berat banget.

 “Yuk bisa yuk!” Yuk, jadi teman yang bisa bilang, “Gue ngerti kok, itu pasti berat banget.”

 Bukan cuma, “Yuk bisa yuk!” Karena terkadang, kalimat layu menguatkan bukan yang penuh semangat, tapi layu tulus dan mengerti. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekacauan 25 Agustus 2025: Aksi Tanpa Nalar, Nyawa Ojol Jadi Tumbal

  Kekacauan Agustus 2025: Aksi Tanpa Nalar, Nyawa Ojol Jadi Tumbal Agustus 2025 mencatat sebuah ironi: aksi yang katanya untuk rakyat, justru merenggut nyawa rakyat kecil. Seorang pengemudi ojol tewas tragis setelah terlindas barak kuda aparat . Peristiwa ini bukan sekedar kejadian, melainkan bukti telanjang dari buruknya manajemen aksi di negeri ini. Pertama, persiapan aksi amburadul . Tidak ada koordinasi, tidak ada alur yang jelas, bahkan sekadar garis aman pun absen. Aksi lebih mirip kepadatan tanpa arah yang memanggil siapa saja yang kebetulan lewat, termasuk ojol yang hanya sedang mencari nafkah. Kedua, alat perlindungan diri nihil . Peserta aksi dibiarkan telanjang menghadapi risiko. Tidak ada distribusi helm, pelindung tubuh, atau hanya jalur saluran. Nyawa manusia diperlakukan seperti angka, bukan martabat. Ketiga, yang paling mendesak, tenaga medis tidak ada . Di tengah ribuan orang, tidak ada tim medis yang stand by. Padahal, siapa pun tahu, aksi massa selalu p...