Kekacauan Agustus 2025: Aksi Tanpa Nalar, Nyawa Ojol Jadi Tumbal
Agustus 2025 mencatat sebuah ironi: aksi yang katanya untuk rakyat, justru merenggut nyawa rakyat kecil. Seorang pengemudi ojol tewas tragis setelah terlindas barak kuda aparat . Peristiwa ini bukan sekedar kejadian, melainkan bukti telanjang dari buruknya manajemen aksi di negeri ini.
Pertama, persiapan aksi amburadul . Tidak ada koordinasi, tidak ada alur yang jelas, bahkan sekadar garis aman pun absen. Aksi lebih mirip kepadatan tanpa arah yang memanggil siapa saja yang kebetulan lewat, termasuk ojol yang hanya sedang mencari nafkah.
Kedua, alat perlindungan diri nihil . Peserta aksi dibiarkan telanjang menghadapi risiko. Tidak ada distribusi helm, pelindung tubuh, atau hanya jalur saluran. Nyawa manusia diperlakukan seperti angka, bukan martabat.
Ketiga, yang paling mendesak, tenaga
medis tidak ada . Di tengah ribuan orang, tidak ada tim medis yang stand by. Padahal, siapa pun tahu, aksi massa selalu punya risiko korban. Dan ketika korban jatuh, yang terlihat hanyalah kekhawatiran, bukan pertolongan.
Aksi ini akhirnya tampak seperti panggung yang setengah jadi : penuh teriakan, penuh simbol, tapi kosong dalam tanggung jawab. Pertanyaan tajam pun harus dilemparkan:
-
Apa gunanya aksi jika persiapan sekelas sandiwara murahan?
-
Mengapa nyawa rakyat kecil selalu jadi tumbal di tengah klaim perjuangan besar?
-
Dan di mana tanggung jawab aparat yang justru menebar ancaman lewat barak kuda, bukan perlindungan?
Tragedi Agustus 2025 adalah output keras bagi negara dan penyelenggara aksi . Ini bukan sekedar kelalaian, ini kejahatan kolektif yang lahir dari abainya perencanaan dan hilangnya rasa kemanusiaan.
Karena aksi tanpa persiapan adalah kecerobohan. Aksi tanpa perlindungan adalah ketidakadilan. Dan ketika itu merenggut nyawa, bukan lagi namanya kekacauan—melainkan kebiadaban.

Komentar
Posting Komentar