Kekacauan Agustus 2025: Aksi Tanpa Nalar, Nyawa Ojol Jadi Tumbal Agustus 2025 mencatat sebuah ironi: aksi yang katanya untuk rakyat, justru merenggut nyawa rakyat kecil. Seorang pengemudi ojol tewas tragis setelah terlindas barak kuda aparat . Peristiwa ini bukan sekedar kejadian, melainkan bukti telanjang dari buruknya manajemen aksi di negeri ini. Pertama, persiapan aksi amburadul . Tidak ada koordinasi, tidak ada alur yang jelas, bahkan sekadar garis aman pun absen. Aksi lebih mirip kepadatan tanpa arah yang memanggil siapa saja yang kebetulan lewat, termasuk ojol yang hanya sedang mencari nafkah. Kedua, alat perlindungan diri nihil . Peserta aksi dibiarkan telanjang menghadapi risiko. Tidak ada distribusi helm, pelindung tubuh, atau hanya jalur saluran. Nyawa manusia diperlakukan seperti angka, bukan martabat. Ketiga, yang paling mendesak, tenaga medis tidak ada . Di tengah ribuan orang, tidak ada tim medis yang stand by. Padahal, siapa pun tahu, aksi massa selalu p...
Halo dunia! Gue driver ojol. Tukang antar penumpang, makanan, dan kadang juga nasib orang ke tempat interview. Dari pagi sampe malem, kerja full senyum, walau dompet udah kayak kerupuk disiram kuah jadi lemes. Tapi tau gak sih, jadi driver ojol tuh sekarang makin mirip ikut ajang survival. Bukan cuma macet dan hujan yang dilawan, tapi potongan 30%, order sepi, dan program berbayar yang katanya “untuk bantu mitra” tapi rasanya kayak nge-prank. "Order Banyak, Tapi Buat Siapa?". Dulu, narik order tuh masih bisa dibilang “Alhamdulillah.” Sekarang? Liat hp dari pagi sampe siang, order gak nongol juga. Yang nongol cuma notif Shopee PayLater sama mantan yang upload nikahan. Gue udah muter-muter dari pasar, perumahan , sampe bundaran tak bernama, tetep aja: SEPI. Kenapa? Karena driver makin banyak. Yang dulu kerja kantoran, sekarang narik juga. Yang abis di-PHK, daftar ojol. Yang gabut, ikut-ikutan. Akhirnya? Satu order diperebutin kayak rebutan mic di karaoke. Udah sepi, pas dapet...