Langsung ke konten utama

Mendidik Anak Itu Dimulai dari Milih Calon Ibunya Bro, pernah nggak


Bro, pernah nggak kamu lihat orang nanam pohon apel … tapi di hamparan gurun 

Lucu kan?

Benihnya bagus. Airnya cukup. Tapi lahannya salah. Jadi ya jangan salahin kenapa nggak tumbuh-tumbuh. Begitu juga soal anak. Kadang kita sibuk nyiapin sekolah terbaik, tabungan pendidikan, bahkan udah milih nama dari sekarang. Tapi kita lupa satu hal paling awal dan paling penting yaitu siapa yang bakal jadi ibunya.

Betul, bro. Mendidik anak itu  dimulai dari milih pasangan hidup, karena calon istrimu itu nanti yang bakal jadi "tanah" buat benih anakmu tumbuh. Kita anologikan Anak Itu seperti Benih dan Ibu Itu seperti tanah.  Bayangin deh kamu punya benih apel paling langka, terus kamu tanam di tanah yang keras, kering, nggak pernah dikasih air.Apa yang terjadi? Ya jelas dia tumbuh tapi miring atau malah layu dari awal.

Makanya, jangan cuma liat senyumnya manis atau gayanya kekinian. 

Tanya juga: 

*Dia bisa jadi tempat tumbuh yang baik nggak?. 

* Kalau anak kita lagi sedih, dia bisa jadi pelukan yang nyaman gak?

* Kalau berada di rumah  merasakan capek dan suasana rumah berantakan, dia bisa tetep bawa rasa aman?

Bukan soal bisa masak atau nggak, cantik atau enggak. Tapi seberapa hangat hatinya. Karena anak belajar bukan dari omonga, tapi dari atmosfer  Rumah Itu tempat untuk Pulang, Bukan malah tempat Kabur

Anak kecil itu peka. Bahkan sebelum bisa ngomong, dia bisa merasakan suasana Irumah adem atau panas?, Ayah dan ibu saling sayang atau saling sindir?. Makanya milih ibu buat anak tuh nggak bisa asal. Harus yang bisa diajak ngobrol, bukan debat tiap minggu. Harus yang mau bareng-bareng belajar, bukan yang selalu ngerasa paling bener. Karena nanti, kalau anakmu nangis tengah malam dan kamu masih sibuk dengan deadline, dia yang bakal bakal atasi anak mu. Nggak usah nyari yang sempurna.Cari yang mau diajak tumbuh bareng, kalau lagi capek, nggak ninggalin.

 Yang kalau lagi marah, masih inget caranya bicara pelan. Ibu yang baik itu bukan yang tau semua hal. Tapi yang gak gengsi bilang, “Aku juga belajar kok. Anakmu nanti bakal ngelihat itu. Dia belajar caranya jadi manusia dari ibunya. cara minta maaf, cara marah dengan santun, cara jadi dewasa tanpa kehilangan empati. Jadi Sebelum Kamu Bilang

 "Aku Mau Nikah Sama Dia..."

Tanyain dulu ke dirimu : “Kalau nanti ada anak kecil dia bakal tumbuh di pelukan yang hangat atau di rumah yang dingin?”. Karena punya anak itu bukan cuma soal biologi. Tapi soal siapa yang kamu pilih buat jadi tempat dia tumbuh, belajar, dan merasa dicintai. Karena Anak Nggak Bisa Milih Lahir dari Siapa Anakmu nanti nggak bisa milih Dia nggak bisa milih lahir dari ibu yang sabar atau yang hobi teriak. Dia cuma bisa lahir, dan belajar dari apa yang kamu siapkan. Dan semua itu dimulai bukan dari buku parenting, Bukan dari beli stroller mahal.

Tapi dari keputusan paling sederhana kamu mau nikah sama siapa. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekacauan 25 Agustus 2025: Aksi Tanpa Nalar, Nyawa Ojol Jadi Tumbal

  Kekacauan Agustus 2025: Aksi Tanpa Nalar, Nyawa Ojol Jadi Tumbal Agustus 2025 mencatat sebuah ironi: aksi yang katanya untuk rakyat, justru merenggut nyawa rakyat kecil. Seorang pengemudi ojol tewas tragis setelah terlindas barak kuda aparat . Peristiwa ini bukan sekedar kejadian, melainkan bukti telanjang dari buruknya manajemen aksi di negeri ini. Pertama, persiapan aksi amburadul . Tidak ada koordinasi, tidak ada alur yang jelas, bahkan sekadar garis aman pun absen. Aksi lebih mirip kepadatan tanpa arah yang memanggil siapa saja yang kebetulan lewat, termasuk ojol yang hanya sedang mencari nafkah. Kedua, alat perlindungan diri nihil . Peserta aksi dibiarkan telanjang menghadapi risiko. Tidak ada distribusi helm, pelindung tubuh, atau hanya jalur saluran. Nyawa manusia diperlakukan seperti angka, bukan martabat. Ketiga, yang paling mendesak, tenaga medis tidak ada . Di tengah ribuan orang, tidak ada tim medis yang stand by. Padahal, siapa pun tahu, aksi massa selalu p...

Toxic Positivity | gak semua di balas dengan senyuman

Pernah nggak sih kita lagi curhat soal capeknya hidup, terus ada yang menjawab,  “Yuk semangat! Masih banyak yang lebih  susah dari kamu,” atau “Bersyukur dong, jangan ngeluh terus. ”Kedengarannya positif ya? Tapi justru di situlah letak masalahnya. Itu yang disebut pandangan yang merugikan, sikap terlalu positif sampai-sampai kita nggak ngasih ruang buat ngerasa sedih, marah, kecewa, atau emosi manusiawi lainnya.Rupanya-olah perasaan negatif itu tabu. Padahal, manusia bukan robot. Kita bukan hanya diciptakan untuk bahagia terus-menerus.  Bayangin deh, kamu lagi tenggelam di lautan, minta tolong, tapi orang di pinggir pantai cuma bilang,  “Tenang aja, airnya bening kok. Liat sisi positifnya.” Nggak lama kan? Positivitas yang beracun bisa membuat orang merasa berbisa bikin orang merasa puas karena ngerasa “nggak cukup kuat”. Padahal, ngerasa down itu bukan kelemahan. Itu bagian dari proses hidup. Terkadang, yang kita butuhkan bukanlah solusi, tapi pelukan. Bukan moti...